Jumat, 05 Juli 2013

FFn - For Some Reason

 For Some Reason
Adam Goodman/ Julia Upjohn
A Cat Among the Pigeons Fanfiction

Warnings:
Not so fluffy, and some grammatical mistakes and typos that maybe you could found? ;o; 

Cat Among the Pigeons (c) Agatha Christie
Plot (c) Me -KariKingyo- 

---- o u o ----

Itu adalah hari yang biasa bagi Adam Goodman, dia akan menikmati hari terakhirnya sebagai tukang kebun dan lalu kembali lagi ke pekerjaannya yang lama.

Ya, itu hanya hari yang biasa.

Hari yang biasa…

Sampai Adam melihat seseorang sedang mencoba memanjat sebuah pohon. Meskipun kasus sudah selesai, Adam tetap harus siaga pada sekelilingnya.

Dengan hati-hati, dia mendekati pohon tersebut.

Adam Goodman segera mendongak untuk melihat lebih jelas siapa si pemanjat ketika berada di bawah pohon.

Didapatinya ternyata itu seorang siswi yang sedang berusaha memanjat pohon tersebut. Tapi dia tak bisa melihat wajahnya, hanya bagian belakang badannya saja.

Sang pria berteriak dengan lantang, “Miss, apa yang sedang kau lakukan?”

Si gadis melihat ke bawah, “Mr. Goodman, apa itu kau?”

“Ya, ini saya, anda sedang apa Miss?” Adam mengulang kembali pertanyaannya.

Dengan semangat, sembari memanjat kembali, si gadis menjawab, “Aku ingin mengambil kembali barang berharga milikku!”

Alis hitam Adam bertautan, masih bingung dengan apa maksud perkataan Julia Upjohn, “Maksud anda Miss?”

“Seekor gagak mencuri barang berharga milikku,” dia menahan napas sesaat saat hendak menaiki sebuah dahan, sebelum melanjutkan, “aku melihatnya sendiri mengambilnya, kuikuti dia sampai ke sini.”

“Tapi Miss, bukankah itu berbahaya?” Adam menarik napas, “Turunlah dan biarkan aku yang naik.”

Terdengar suara tawa dari gadis itu, “Terimakasih Mr.Goodman, tapi sebentar lagi aku bisa mencapai sarangnya.”

 Tapi Adam merasa tidak yakin, mungkin saja terjadi sesuatu yang tidak beres.

Maka dia menunggu.

Dan terus menunggu.

Terdengar jeritan senang dari atas pohon, Adam melihat ke atas pohon, “Kau sudah mencapainya Miss?” Dia berteriak.

“Ya, aku sudah berhasil mengambilnya!” Si gadis berteriak dengan semangat.

 “Kalau begitu cepatlah turun Miss. Aku takut kau akan terkena masalah.”

Dengan sebuah anggukan penuh semangat, Julia Upjohn menjawab, “Baik, aku akan segera turun.” Pelan-pelan, dituruninya batang-batang pohon yang tadi dia pijaki saat naik.

Pelan.

Dan pasti.

Pelan.

Dan- ZREK.

Julia tergelincir dari salah satu batang yang barusan dipijakinya. Tapi dia berhasil menggapai salah satu batang pohon. Membuatnya bergelantungan pada batang pohon tersebut.

Sehingga dia tidak jatuh ke tanah yang jauhnya sekitar tiga setengah meter itu.

Dengan sekuat tenaga, dia mencoba mengangkat tubuhnya ke atas, tapi dia tidak bisa (mungkin seharusnya dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk ikut atletik daripada tenis), tubuhnya terasa begitu berat, sementara tangannya terasa sakit dan panas.

“Miss, kau tidak apa-apa?” Adam berlari ke sisi lain pohon untuk melihat lebih jelas dimana Julia berada.

“Apa kau bisa menolongku?” Julia bertanya dengan pasrah, tangannya makin lama makin sakit saja.

Adam berusaha tetap tenang, “Miss, lepaskan tanganmu,” dia menarik napas, “aku akan menangkapmu.”

Julia Upjohn tak punya banyak pilihan lain.

 Pertama, kakinya tak bisa memijak batang pohon manapun, karena terlalu jauh dari tempatnya.

Kedua, dia tidak bisa mengangkat tubuhnya sendiri.

Ketiga, tangannya makin sakit karena harus menahan beban dirinya.

Pilihan terakhirnya hanyalah melompat, dan percaya pada si tukang kebun itu.

“Setelah saya hitung, tolong segeralah lepaskan pegangan anda Miss.” Adam tetap berkata dengan tenang.

“Baik.” Si gadis berkata dengan mantap.

Mereka berdua menghitung mundur.

3.

2.

1.

Sang murid Meadowbank melepas pegangannya.

Dia menjatuhkan dirinya.

Tapi Adam berhasil menangkapnya.

Dia mendekap Julia.

Jantung mereka berdua berdetak tak menentu.

 Masing masing masih terkejut dengan apa yang terjadi, mereka masih berpelukan dengan satu sama lain.

Julia duluanlah yang melepaskannya.

“Itu sangat mendebarkan.” Matanya menatap dengan penuh semangat kepada Adam Goodman.

“Tapi Miss, jangan pernah mencoba melakukan hal itu lagi.” Suara Adam dibuat agak kesal.

“Mr. Goodman, aku tidak sengaja melakukannya. Aku hanya mencoba mengambil ini.” Tangannya menunjukkan permata zamrud yang diberikan kepadanya setelah kasus -hampir-pencurian itu selesai .
 Tapi Adam Goodman hanya melihat pada permata itu sekilas, dia rupanya lebih fokus kepada tangan Julia Upjohn yang berdarah. “Miss, tanganmu berdarah.”

“Ya, tapi kupikir ini akan sembuh dengan sendirinya.” Julia tersenyum, seakan tidak terjadi apa-apa.

Adam geram saat sendiri mendengarnya, “Miss, kau seorang gadis, dan seharusnya lebih memperhatikan dirimu.” Adam menarik tangan Julia, membawanya ke dekat gudang yang berisi peralatan berkebun.

---- o u o ----

Julia menunggunya di depan gudang, dia masih terpukau dengan apa yang baru saja terjadi. Rasanya menegangkan. Dia sangat beruntung karena ada Adam disekitar situ. Si gadis memandang tangannya. Tangannya yang baru saja ditarik oleh sang tukang kebun.

Untuk beberapa alasan yang tak bisa dia mengerti, hatinya berdebar saat mengingatnya.

Sementara itu, Adam, meskipun dalam hatinya dia kesal pada sikap gadis itu yang begitu tidak peduli pada dirinya sendiri, dia tetap mencari kotak PPPK di sudut gudang. Terpikir olehnya, kenapa dia mau menolong gadis itu sampai sebegininya. Gadis itu berambut coklat, dengan wajah berbintik. Dia bukan anak paling cantik dan anggun di Meadowbank. Tapi dia punya pesona tersendiri, semangatnya saat mencari sesuatu itulah yang membuatnya berbeda. Adam melukiskan tentang gadis itu dalam pikirannya, sambil terus mencari kotak PPPK. Gadis itu berbeda.

 Untuk beberapa alasan yang tak bisa dia mengerti, hatinya berdebar saat mengingat gadis itu.

Dia segera keluar setelah menemukan apa yang ia cari. Adam melihat Julia sedang memandangi bunga pom pom dahlia yang baru saja ditanam.

“Kuharap mereka bisa jadi bunga yang cantik.” Dia tersenyum ketika melihat Adam telah berada di sampingnya.

“Ulurkan tanganmu, Miss.” Adam meminta, sembari menyiapkan antiseptik.

“Tenang saja, aku bisa melakukannya sendi-“ Si pria berambut hitam segera memotong kata-kata Julia.

“Aku memaksa,” dia berhenti sebentar, “karena aku juga, kau jadi seperti ini. Harusnya aku saja yang naik dan membawamu turun.”

“Jadi, tolong ulurkan tanganmu, Miss.” Nada itu sopan, tapi cukup terdengar memerintah di telinga Julia. Julia hanya bisa menurutinya.

Hati si gadis berambut coklat sebahu itu kembali berdetak begitu cepat saat dengan hati-hati si pria mengobatinya. Sesekali pria yang tegap tersebut bertanya apakah dia kesakitan. Julia menggeleng, meskipun sebenarnya ya, dia agak kesakitan.

“Terimakasih Mr.Goodman,” Julia Upjohn tersenyum, “kau begitu banyak menolongku.” Adam menunduk, untuk tidak memperlihatkan wajahnya, yang entah kenapa memerah.

“Ronnie,” Adam menjawab, “Kau bisa memanggilku Ronnie.”

 “Ronnie?”

“Uhm, panggil saja Ronnie.” Adam Goodman tersenyum kecil, “Kau tahu kan, aku bukan benar benar tukang kebun.”

“Aku tahu itu, tapi semua orang disini memanggilmu Mr. Goodman,”

“Ya, tapi aku lebih suka kalau kau memanggilku Ronnie.” Adam menggaruk pipinya, entah kenapa, dia menjadi merasa gugup, padahal dia hanya berhadapan dengan seorang gadis sekolah. 

Untuk beberapa alasan yang tak mereka ketahui, wajah mereka berdua kali ini memerah saat mereka beradu pandang.

---- o u o ----

Jadi, mereka ini, tokoh tokoh dari novel Agatha Christie, Cat Among Pigeons, entahlah, tapi saya merasa perlu shipping mereka.

Karena saya harus mengeluarkan perasaan fangirling saya, saya bikin fanfic mereka, tadaaaa~

Niatnya pengen bikin drabble, akhirnya malah bikin one shot, hehe (^u^)v

And please don't kill me because I ship them.

Hope someone enjoy this fic. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar