Senin, 23 Februari 2015

Review - Animal Farm




Judul: Animal Farm
Pengarang: George Orwell
Penerbit: Bentang
Tahun terbit: Januari 2015
Jumlah halaman: 140

 Saya gak inget persisnya, kapan saya bisa tahu novel ini, tapi kemungkinan besar karena hobi saya yaitu surfing the internet.  There are really lots of weird things there. 

Udah sejak lama saya nyari buku ini, waktu itu pernah nyoba nyari di pasar buku bekas deket Stadion Diponegoro pas di Semarang, tapi hasilnya nihil (tapi kayaknya emang pasar itu lebih mengkhususkan diri di buku-buku kuliah sih, ehe). Sekitar bulan Januari awal, saya lagi iseng iseng liat bukabuku.com, dan di halaman utamanya ternyata ada novel ini! Wah, berarti sudah terbit lagi ya, akhirnya setelah sekian lama bisa beli buku ini, hehe

Waktu tatap mata langsung di toko buku sama novel ini, ternyata... tipis ya. Agak kaget juga sih, saya pikir ini bakal jadi novel yang panjang, ternyata nggak ya... Tapi ya sudahlah, saya memang juga lagi nyari bacaan singkat. :))

Anyway, sinopsis novel ini begini.

Ada seorang babi tua bernama Major, dimana dia adalah babi yang paling dihormati di peternakan. Babi ini lalu menceritakan mimpinya, bahwa akan ada masa dimana para binatang akan berkuasa atas dirinya sendiri. Dia tidak tahu kapan ini akan terjadi, tapi pasti nantinya akan terjadi juga sebuah revolusi di peternakan mereka, Peternakan Manor. Peternakan Manor dimiliki oleh Pak Jones, seorang majikan yang keras hati dan tidak berperasaan.

Karena tidak tahan lagi dengan perlakuan Pak Jones, pemberontakan pun terjadi, terbentuklah Peternakan Binatang untuk menggantikan Peternakan Manor. Dua babi pun menjadi pemimpinnya, Napoleon dan Snowball. Peternakan pun berjalan dengan lancar dibawah pimpinan mereka,  namun...


salah satu dari pemimpin itu ingin kekuasaan yang lebih, lebih, dan lebih. Dan babi yang satunya pun harus disingkirkan... Siapakah babi tersebut?

Dan setelah kejatuhan salah satu babi, Peternakan Hewan pun berubah, menjadi rezim totaliter yang dipimpin oleh sekelompok babi...

Jeng jeng. (Spoiler Alert)

Novel ini menurut saya bahasanya mudah dipahami, bisa dibilang ini fabel, tapi penuh intrik politik. Tapi sekali lagi, dengan bahasa yang sederhana ini atau tiadanya kata-kata sulit seperti yang biasa ditemukan sastra-sastra lain, tidak mengurangi keseruan novel ini.

Lalu, saya suka karakter demi karakter yang ada di novel ini. Paling salut sama Boxer,si Kuda dengan segala kepercayaannya pada para babi yang memegang tampuk pemerintahan di peternakan. Bahkan sampai akhir ketika dibawa ke "rumah sakit" pun... Duh, bikin sedih sumpah.

Dan buat yang belum tahu, sebenarnya novel ini merupakan novel alegori politik tentang Rusia, yang rentang waktunya dimulai dari kejatuhan Kerajaan Rusia sampai Rusia menjadi Uni Soviet

Tiap karakter sendiri merupakan personifikasi seseorang, Napoleon diumpamakan sebagai Stalin, dan Snowball diumpamakan sebagai Trotsky. Major si Babi Tua adalah (dari yang saya baca di wikipedia) adalah campuran dari Karl Marx dan Lenin, karena Major yang menjadi awal mula dari kemunculan prinsip Bintangisme yang muncul di Peternakan Hewan.

Boxer dan Clover adalah para kuda yang menurut saya adalah perumpamaan dari kaum proletar atau kaum buruh, yang terus menerus bekerja tanpa lelah dan selalu beranggapan bahwa perkataan para babi pasti selalu benar.

Benjamin si keledai, menurut saya adalah perumpamaan dari kaum apatis. Orang-orang yang mengerti akan situasi politik yang terjadi, tapi juga tidak berbuat apa-apa. Entah karena takut pada apa yang akan terjadi, atau memang karena dia tidak punya bukti untuk menunjukan kesalahan para babi. 

Selain itu, masih banyak karakter lain yang menarik di buku ini, tapi too much spoiler lah haha
"Semua kebiasaan Manusia itu jahat. Dan, di atas semuanya, binatang tidak boleh menindas sesama binatang. Lemah atau kuat, pintar atau biasa-biasa saja semuuanya saudara. Tak seekor binatang pun boleh membunuh bbinatang lain. Semua binatang setara."

-Major, hal.10

Tidak ada komentar:

Posting Komentar